Awan Hitam Ekonomi Jatim

Beberapa data ekonomi Jawa Timur (Jatim) nampak berkilau mirip sinar terang mentari. Pertumbuhan ekonomi Jatim belakangan ini kerap di atas pertumbuhan ekonomi nasional.  Memang pada 2007 dan 2010 pertumbuhan ekonomi Jatim di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. Namun pada 2008, 2009, dan 2011 pertumbuhan ekonomi Jatim lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi nasional. Bahkan, pada 2012 (yang data resminya belum diumumkan) hampir pasti pertumbuhan ekonomi Jatim di atas nasional. Demikian pula dalam hal pengangguran, di mana tingkat penganguran terbuka (TPT) Jatim selalu lebih rendah ketimbang nasional. Pada 2007 TPT nasional 8,46%, sedangkan Jatim 6,24%. Lima tahun kemudian (2012), TPT nasional turun menjadi 6,32% dan Jatim juga membaik menjadi 4,14%. Itulah yang membuat ekonomi Jatim terlihat memiliki prospek yang cerah.

Dalam banyak hal, struktur ekonomi Jatim merupakan fotokopi dari struktur ekonomi nasional. Penggerak utama sektor ekonomi Jatim adalah sektor perdagangan, industri, dan pertanian. Sektor perdagangan Jatim menyumbang sekitar 30% PDRB (produk domestik regional bruto), diikuti sektor industri (27%), dan pertanian (15%). Struktur yang hampir sama juga terjadi pada ekonomi nasional, di mana sektor perdagangan memberikan donasi lebih kecil (14%), industri 24%, dan pertanian 14% terhadap PDB (produk domestik bruto). Sektor perdagangan dan industri Jatim terkonsentrasi di kawasan Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan). Sementara itu, sektor pertanian menjadi tumpuan hidup di kawasan “Mataraman” (Madiun, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, Magetan, Trenggalek, dll) dan ‘Tapal Kuda” (Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi).

Sektor pertanian Jatim merupakan kisah hebat yang berperan sebagai penyangga pangan nasional. Gula, beras, jagung, kedelai, dan daging merupakan sebagian produk pertanian Jatim yang menjadi penyumbang terbesar pertanian nasional. Sampai 2012 padi Jatim menyumbang 17,5% produksi nasional, sedangkan jagung (31,6%), kedelai (40,4%), kacang tanah (29,8%), dan ubi kayu (14,7%) [BPS dan Deptan, 2012].  Oleh karena itu, tidak salah bila Jatim hingga kini masih disebut sebagai lumbung pertanian nasional, seperti halnya Jawa Barat. Di luar itu, di Jatim komoditas kopi, teh, hortikultura, dan buah-buahan juga menjadi kontributor cukup besar sehingga menjadi pelengkap keanekaragaman produk sektor pertanian. Pada titik ini, tidak heran bila subsektor industri makanan dan minuman (mamin) berkembang cukup baik di Jatim dan menjadi salah satu penggerak utama sektor industri Jatim.

Sungguh pun begitu, di balik gemerlap ekonomi Jatim masih tersimpan ragam masalah ekonomi yang mencemaskan. Tidak seperti data pertumbuhan ekonomi dan pengangguran, angka kemiskinan dan IPM (indeks pembangunan manusia) di Jatim lebih buruk ketimbang level nasional. Pada 2012 persentase kemiskinan di Jatim masih sebesar 13,4%; jauh lebih tinggi dari kemiskinan nasional (11,96%). Demikian juga IPM Jatim pada 2011 bertengger pada angka 72,18, sedangkan IPM nasional sebesar 72,77 (BPS, 2012). Korelasi antara data IPM dan kemiskinan itu cukup kuat,  di mana daerah (kabupaten) yang tingkat IPM-nya rendah biasanya tingkat kemiskinannya tinggi. Kantung-kantung kemiskinan di Jatim antara lain berada di kawasan Madura, Tapal Kuda, dan Mataraman. Daerah-daerah itu tingkat IPM-nya rendah, yang kebetulan pula sebagian besar perekonomiannya bertumpu kepada sektor pertanian (bahan mentah).

Berkaitan dengan data konsentrasi sektor industri dan perdagangan yang terkumpul di Surabaya dan sekitarnya, serta data kantung-kantung kemiskinan, data lain yang membuat miris adalah ketimpangan pembangunan antarkawasan yang makin melebar. Pada 1984, perekonomian Surabaya hanya menyumbang 13% terhadap PDRB Jatim, namun pada 2010 donasi Surabaya terhadap PDRB Jatim telah melonjak menjadi 26%. Jika wilayah itu diperluas ke 4 kota/kabupaten, yaitu Surabaya, Gresik, Sidoarjo, dan Kota Kediri, pada 1984 wilayah itu hanya menyumbang 22% terhadap PDRB Jatim, tapi pada 2010 sudah melesat menjadi 47% (BPS, diolah). Jadi, empat daerah itu menyumbang hampir separuh PDRB Jatim, padahal Jatim memiliki 38 kota/kabupaten. Dalam soal pemerataan pembangunan antarwilayah ini, kondisi di Jatim lebih buruk dari Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Pada level nasional, sebetulnya Jatim sangat diharapkan menjadi kawasan yang berperan penting dalam mendukung percepatan pembangunan ekonomi, lebih-lebih pada saat pemerintah sedang bersiap memasuki Asean Economic Community (2015). Sektor industri dan pertanian Jatim sangat diharapkan kontribusinya untuk memenangkan persaingan di level Asean tersebut. Tapi, dengan melihat aneka persoalan itu, nampaknya banyak hal yang harus diperbaiki agar harapan itu bisa terwujud.  Terlebih, pada 2013 ini Jatim akan mengadakan perhelatan pilkada untuk memilih gubernur yang baru. Sulit mengharapkan perubahan besar pada tahun ini karena petahana konsentrasinya pasti terpecah menyambut pagelaran politik tersebut (karena sudah mengumumkan pencalonannya lagi). Siapapun yang kelak terpilih diharapkan tahu persis masalah ekonomi yang harus diatasi agar cuaca tidak makin berawan di Jatim.

*Ahmad Erani Yustika, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Brawijaya; Direktur Eksekutif Indef

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*