Evaluasi Ekonomi Semester I 2011

Mitigasi Pembalikan Arus Modal
Sampai saat ini Bank Indonesia masih menetapkan BI rate sebesar 6,75%, yang terakhir diputuskan pada 9 Agustus 2011. Keputusan ini tentu saja dengan memertimbangkan situasi inflasi yang tidak menunjukkan kenaikan yang berarti, meskipun pada Juli 2011 inflasi cukup tinggi, yakni 0,67%. Pada Agustus dan September ini diperkirakan inflasi akan lebih tinggi lagi karena ada momentum puasa ramadhan dan lebaran. Oleh karena itu, jika sampai akhir tahun inflasi bisa dikelola sekitar 5,8%, maka sebetulnya ada ruang bagi BI menurunkan BI rate ke level 6,25-6,5%. Penurunan BI rate ini sangat penting bagi perekonomian nasional sebab sampai kini suku bunga (kredit) masih sangat tinggi (di atas 10%) sehingga membuat biaya investasi mahal dan daya saing perekonomian menjadi merosot. Jika suku bunga kredit bisa ditekan maksimal 10%, maka memungkinkan bagi dunia usaha bergerak lebih cepat.
Menyangkut krisis yang terjadi di AS dan negara maju lainnya yang dipicu oleh utang pemerintah, nampaknya perlu diperhatikan secara saksama. Salah satu pintu yang wajib dijaga adalah sektor keuangan, terutama yang dijejali dengan investasi portofolio. Pada periode 1993-1997 (sebelum krisis ekonomi hebat), investasi portofolio hanya sekitar 4,17% terhadap penanaman modal asing (PMA), setelah itu melonjak menjadi 95,44% (1998-2002), membengkak lagi menjadi 303,02% (2003-2006), dan turun menjadi 164,27% (2007-2010) [Indef, 2011]. Penurunan ini tetap belum begitu berarti karena jumlahnya masih sangat besar sehingga rentan apabila terjadi pembalikan arus modal secara tiba-tiba (sudden reversal). Jika ini terjadi pasti akan mengganggu nilai tukar (rupiah terhadap dolar) dan berakibat kepada stabilitas perekonomian. Potensi ini ada di depan mata sehingga kesigapan pemerintah sangat dibutuhkan.

Salah satu yang bakal bermasalah apabila terjadi perubahan drastis nilai tukar adalah komposisi ekspor-impor nasional. Jika tiba-tiba nilai tukar jatuh, maka impor menjadi mahal sehingga berpotensi menyumbang inflasi. Sebaliknya, beberapa komoditas ekspor yang memakai bahan baku impor pasti akan sulit bersaing karena harga juga akan melonjak. Sampai Juni 2011 memang neraca ekspor-impor masih aman, di mana pada semester I 2011 ini ekspor mencapai US$ 98,64 miliar, naik 36,02% ketimbang periode yang sama 2011. Sementara itu, impornya mencatat nilai US$ 83,59 miliar (naik 32,82% dibanding 2010), sehingga surplus sekitar US$ 15 miliar (BPS, 2011). Komposisi ekspor-impor itu sebagian menggambarkan bahwa komoditas ekspor Indonesia masih tergantung dari bahan baku impor, sehingga setiap terjadi pertumbuhan ekspor diikuti dengan pertumbuhan impor dengan proporsi yang hampir sama.

Dengan mencermati keadaan tersebut, maka proyeksi untuk memeroleh pertumbuhan ekonomi sekitar 6,6% masih terbuka, namun dengan catatan kualitasnya kurang bagus (karena sektor riil belum tumbuh tinggi). Berikutnya, ekspor Indonesia berpotensi menembus US$ 200 miliar pada tahun ini, dengan catatan tidak terjadi krisis yang meluas di negara maju akibat problem utang pemerintah AS. Inflasi juga akan bisa dikelola dengan rentang antara 5,8 – 6,0% sampai akhir tahun, tentu dengan asumsi pemerintah tidak akan melakukan kenaikan harga minyak (premium). Selebihnya, pekerjaan rumah yang harus dikerjakan pemerintah ada tiga hal: (i) melakukan mitigasi dampak krisis AS menjalar ke perekonomian, khususnya via pasar saham, SBI, dan SUN; (ii) mendorong pertumbuhan sektor pertanian dan industri untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran; dan (iii) mengendalikan inflasi dengan mengelola stabilitas harga pangan.

*Ahmad Erani Yustika, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Brawijaya; Direktur Eksekutif Indef

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*