Lingkar Budaya Di Desa Lingga Kabupaten Karo

Banyak orang yang khilaf dengan menyatakan bahwa pembangunan adalah kerangka proses perubahan dan perbaikan ekonomi semata. Akibatnya, kerja-kerja pembangunan dominan diukur dengan variabel ekonomi, misalnya pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan per kapita, jumlah investasi, pengendalian inflasi, kenaikan barang dan jasa, dan seabrek data lainnya.

Tentu saja variabel di atas penting. Namun, memahami pembangunan cuma sesempit itu, tentu kita akan terperosok dalam kubang kesesatan. Perbaikan yang diharapkan justru berbuah kepahitan. Padahal, jika dipahami dengan kedalaman, pembangunan adalah derap kaki kebudayaan. Keseluruhan sistem nilai yang menggerakkan manusia untuk berpikir, berbuat, dan berkarya. Sistem nilai itu tak lain adalah makna budaya yang sarat makna.

Implikasinya, pembangunan mesti tegak di atas gerak nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat. Demikian pula, ukuran pembangunan adalah multidimensi, bukan hanya disangga kalkulasi keberhasilan ekonomi. Kerangka pikir semacam itu menjadi jauh lebih penting diamalkan di wilayah perdesaan, karena sebagian besar daya hidup orang desa sangat kental dipengaruhi oleh sistem nilai.

Pembangunan tak bisa dirancang seragam, tapi beragam sesuai dengan sistem nilai atau budaya di masing-masing wilayah/desa. Pada titik ini, UU Desa sangat visioner karena memberikan otoritas penuh kepada desa melalui kewenangan lokal berskala desa dan kewenangan hak asal usul. Dengan otoritas itu, desa dapat mengeksekusi pembangunan sesuai dengan sistem nilainya.

Salah satu desa yang deras mengamalkan itu adalah Desa Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo. Masuk ke wilayah desa itu kita ditaburi dengan aneka rumah adat, perpustakaan desa yang hebat, lanskap kuburan yang elok, dan tentu saja pemandangan alam yang rupawan. Suhu udara cukup dingin, sehingga cocok sebagai kawasan wisata. Kabupaten Karo sendiri hidup dari sektor pertanian dan perkebunan. Sawah-sawahnya begitu subur, hamparan padi dan sayur-sayuran segar menjadi warna wilayah tersebut.

Desa Lingga mendaku sebagai desa budaya. Jika sudah tiba di tengah desa, maka identitas budaya tersebut memang tidak salah. Di tengah desa terdapat semacam Balai Budaya, tempat seluruh warga desa mengekspresikan warisan nilai-nilai budaya, termasuk kesenian yang terpelihara.

Pada saat saya ke sana, anak-anak sedang belajar menari dengan riang. Saat saya ajak bercakap dengan dua orang wisatawan dari Belanda, mereka menyampaikan bahagia melihat latihan tersebut, juga terpesona dengan keindahan budaya di Desa Lingga. Meskipun tidak lagi tersisa banyak, terdapat beberapa rumah adat di Desa Lingga yang terawat dengan baik.

Saya melihat setidaknya 4 rumah adat yang masih ditinggali oleh warga desa. Salah satunya yang saya masuki adalah rumah adat “Si Empat Jabu”. Seperti pada umumnya rumah adat di sana, kita mesti naik tangga agak tajam untuk masuk ke rumah. Rumah panggung itu tingginya 2 meter dari tanah yang ditopang oleh tiang dari kayu. Disebut Si Empat Jabu karena rumah kayu itu dihuni oleh 4 keluarga dalam satu kekerabatan. Luas rumah itu sekitar 80 meter persegi (8×10 meter), yang dibagi menjadi empat bagian.

Satu bagian untuk satu keluarga. Masing-masing keluarga ada satu tungku sebagai aktivitas dapur memasak. Konsepnya terbuka sehingga ada interaksi yang intensif antarkerabat. Kondisi rumah agak gelap karena ventilasi yang sedikit. Pintu ada dua, bagian barat dan timur (depan dan belakang). Pada siang hari jika tidak dibantu dengan lampu, di dalam rumah tampak gelap. Sungguh pun begitu, rumah ini benar-benar masih asli dan berusia ratusan tahun.

Di luar rumah Si Empat Jabu itu, di Karo masih terdapat banyak varian rumah adat lainnya, seperti Gerga (tempat tinggal raja), Si Waluh Jabu (yang ditempati delapan keluarga dalam satu kekerabatan), Sepulu Enem Jabu (rumah adat tertinggi karena dihuni oleh 16 keluarga), dan lain-lain.

Sayangnya, kata Bupati Karo yang mengunjungi desa tersebut dengan saya, animo warga untuk tinggal di rumah-rumah adat sudah makin sedikit. Sebagian besar sudah meninggalkan rumah adat dan membangun rumah sesuai dengan model atau ciri sekarang. Oleh sebab itu, Bupati Karo berharap agar rumah adat di desa ini tetap dirawat dengan sebaik-baiknya.

Jejak wisatawan dari mancanegara di desa ini cukup banyak, antara lain bisa dilihat dari posko wisata di desa tersebut. Di posko (yang diperankan sebagai pusat informasi desa/wisata) yang amat bersahaja itu ditempelkan banyak sekali kartu pos dari para wisatawan, sebagian besar dari Eropa. Jadi, desa itu sudah cukup dikenal oleh para wisatawan, baik domestik maupun turis internasional.

Begitulah, Desa Lingga telah menampilkan sebagian dari sistem nilai sebagai gerak pembangunan. Semarak pembangunan tidak cuma diisi dengan derap pembangunan jalan desa, irigasi, pasar desa, atau mendirikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Ragam pembangunan itu tentu juga mulia, tetapi Desa Lingga tak lupa menyangga pembangunan dengan menghidupkan budaya desa yang menjadi identitas kaumnya. Bahkan, pembangunan jalan, irigasi, air bersih dan-lain-lain juga dikerjakan dengan bertumpu ritus budaya desa.

Melihat Desa Lingga kita menyaksikan suasana pembangunan yang basah, tidak kerontang karena semata dikonversi menjadi capaian ekonomi saja. Wajah anak-anak dan desa menjanjikan masa depan karena mereka tidak kehilangan akar kehidupan.

 

Ahmad Erani Yustika

Staf Khusus Presiden

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*