Menyongsong Era Masyarakat Ekonomi ASEAN

Merancang Secara Detail
Sampai sejauh ini perdagangan Indonesia dengan negara-negara anggota Asean masih menunjukkan kinerja yang positif (surplus perdagangan). Pada 2010 neraca perdagangan Indonesia ke Asean surplus US$ 3,6 miliar, dengan rincian ekspor sebesar US$ 25,6 miliar dan impor US$ 22,0 miliar (BPS, 2011). Kinerja perdagangan ini sendiri terus menunjukkan tren yang membaik dari tahun ke tahun mengingat pada 2005 dan 2006 Indonesia masih mencatat perdagangan defisit ke Asean. Pada 2007 dan 2008 perdagangan surplus, tapi masih di bawah US$ 900 juta. Baru pada 2009 dan 2010 perdagangan meraih hasil meyakinkan (2009 sebesar US$ 2,9 miliar). Dengan kalkulasi seperti itu, peluang Indonesia untuk mengembangkan ekspor masih terbuka lebar asalkan masalah-masalah yang telah dikemukakan di atas dapat dipecahkan secara cepat. Agenda lebih rinci mesti dibuat dan dijalankan secara konsisten.
Agenda lebih rinci yang mesti dijabarkan adalah menjadikan kawasan basis produksi dan pasar tunggal. Indonesia harus betul-betul selektif untuk menempatkan sektor-sektor ekonomi strategis dan potensial yang selama ini menjadi unggulan domestik sebagai basis produksi. Sampai kini Indonesia masih menjadi koordinator untuk sektor otomotif dan agrobisnis sebagai pilar basis produksi. Sektor agrobisnis merupakan harga mati yang harus dipertahankan pemerintah karena keunggulan Indonesia nyaris mutlak. Hanya pemerintah masih lemah dalam mengaitkan antara sektor hulu dan hilir terbukti dengan minimnya sektor manufaktur yang mengolah aneka produk dari sektor pertanian (dalam arti luas). Sampai saat ini sebagian besar komoditas sektor pertanian masih diekspor dalam bentuk mentah sehingga tidak menimbulkan nilai tambah, seperti kelapa sawit, produk ikan, buah-buahan, dan lain-lain.
Berikutnya, lima pilar yang akan dijalankan oleh MEA adalah aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja (TK) terampil, dan modal. Dari kelima pilar tersebut titik kritis yang harus dicermati adalah aliran bebas jasa, TK terampil, dan modal. Sektor jasa merupakan kartu mati bagi Indonesia selama ini karena menyumbang defisit yang cukup besar dalam neraca pembayaran nasional, demikian pula aliran modal yang kerap menjadi masalah. Sementara itu, TK terampil juga harus dicamkan secara saksama karena struktur TK Indonesia dipenuhi tenaga kerja yang tidak terampil, di mana sekitar 70% TK memiliki kualifikasi cuma tamat SMP ke bawah. Jika tidak dikenali secara lebih detail pada aspek-aspek tersebur, bisa jadi hal ini akan menjadi lubang yang menggerogoti perekonomian nasional. Pemerintah masih punya waktu (meski pendek) untuk berhitung secara cermat dalam menyikapi MEA ini agar tidak menjadi sumber malapetaka perekonomian di masa depan.

Jurnal Nasional, 6 Mei 2011

*Ahmad Erani Yustika, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Brawijaya; Direktur Eksekutif Indef

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*