Merumuskan Agenda KTT ASEAN

Trans-Pacific Partnership

Sementara itu, bagi kepentingan penguatan ekonomi di kawasan Asean, perlu dievaluasi kembali keberadaan ACFTA. Evaluasi ini tentu tidak dalam posisi menggagalkan secara total terhadap seluruh kesepakatan yang sudah dicapai, tapi merinci poin-poin konsensus yang merugikan anggota-anggota Asean dengan China. Sejak ACFTA diberlakukan Januari 2010 lalu, kecenderungannya defisit perdagangan negara Asean terhadap China makin membesar sehingga ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Secara empiris, China memeroleh keuntungan absolut dalam ACFTA tersebut, sehingga berbagi manfaat menjadi bagian penting dalam reformulasi kesepakatan. Perundingan perlu dilakukan secara hati-hati dan cermat dan China tidak perlu dianggap sebagai duri dalam ACFTA, tapi sebagai mitra strategis bagi penguatan daya tawar Asean itu sendiri. Dengan spirit ini, prospek ACFTA akan menjadi bermanfaat bagui semua pihak.

Sementara itu, agenda kekinian yang perlu dibicarakan secara intensif adalah soal perlambatan ekonomi dunia dan penguatan domestik masing-masing negara. Seperti yang sudah disinggung di muka, krisis ekonomi di negara-negara maju dipastikan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi. Indonesia sendiri di dalam RAPBN 2012 masih mematok pertumbuhan 6,7%, tapi hampir pasti level tersebut sulit dicapai. Kalkulasi yang realistis pertumbuhan ekonomi seharusnya ditargetkan sekitar 6,2-6,5%. Jika tingkat pertumbuhan bisa dicapai pada angka tersebut, sebenarnya sudah sangat bagus. Bagi Indonesia, Asean juga merupakan pasar yang besar karena sekitar 15-20% ekspor Indonesia menuju ke wilayah ini. Oleh karena itu, potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi Asean pasti juga akan memengaruhi kinerja ekspor nasional. Dengan catatan ini, KTT sekarang perlu mendalami alternatif sumber-sumber baru pertumbuhan di luar perdagangan.

Bagaimana dengan kedatangan AS dalam KTT Asean kali ini? Indonesia dan Asean harus memainkan sikap “dua kaki” dalam konstelasi ekonomi politik global ini. Obama datang pasti dengan misi merangkul beberapa negara Asean sebagai anggota TPP. Sementara itu, TPP sebetulnya didesain untuk mencapai kepentingan AS, yakni sebagai instrumen pemulihan ekonomi (dengan memperbesar penetrasi pasar ke negara yang masuk TPP) dan penguatan posisi tawar berhadapan dengan China. Jika beberapa negara Asean masuk ke dalam TPP, maka bisa berimplikasi terjerat dalam skema liberalisasi perdagangan regional kembali. Lebih dari itu, China kemungkinan akan memberikan respons yang cenderung negatif terhadap Asean. Oleh karena itu, politik dua kaki dimaksudkan untuk menerima kehadiran Obama dengan tangan terbuka, tapi di sisi lain harus tegas menolak bergabung dalam TPP agar Asean tidak terjebak situasi “zero sum game”.

*Ahmad Erani Yustika, Guru Besar Fakultas Ekonomi
Universitas Brawijaya; Direktur Eksekutif Indef

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*