Paradoks Sektor Industri

Pada 2011 ini ada dua peristiwa penting terkait perkembangan sektor industri nasional. Pertama, pertentangan antara Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan soal kebijakan ekspor rotan. Menteri Perindustrian bersikukuh ekspor rotan harus dilarang karena mengurangi input bagi industri pengolahan yang berbahan baku rotan, misalnya industri furniture. Lebih dari itu, mengekspor rotan sama halnya dengan memberi “peluru” kepada musuh, karena dengan cara itu negara lain (misalnya China) bisa dengan mudah menaklukkan Indonesia. Kedua, makin menipisnya neraca perdagangan Indonesia. Meskipun ekspor tumbuh dengan cukup baik, namun laju impor juga meningkat melebihi pertumbuhan ekspor. Sebagian tentu disebabkan penetrasi komoditas China ke pasar Indonesia, tapi dalam telaah yang lebih mendalam terdapat banyak persoalan di balik itu, terutama di sektor industri.

Ekonomi “Primitif”

Peristiwa pertama di atas sebetulnya merupakan cerita lama mengenai ketidakjelasan tata kelola pengembangan industri nasional. Menteri Perdagangan merasa kebijakan membuka ekspor merupakan langkah tepat karena permintaan bahan industri furniture belum terlalu berkembang, di luar tuntutan produsen rotan. Sebaliknya Menteri Perindustrian menganggap kebijakan itu merupakan jalan mundur sebab menjadi disinsentif bagi penciptaan nilai tambah perekonomian. Regulasi pembukaan ekspor rotan dengan demikian bisa dianggap mengembalikan watak “primitif” perekonomian yang hanya mengandalkan penjualan bahan baku dengan nilai tembah rendah. Padahal pemerintah sendiri, baik dalam RPJP dan RPJM (juga MP3EI) sudah menandaskan pentingnya penciptaan nilai tambah. Jika prinsip itu diyakni, mestinya ekspor rotan dan bahan baku lainnya (gas, batu bara, kelapa sawit, dan lain-lain) harus dihentikan.

Sementara itu, pemerintah pada 2011 memberi target ekspor menyentuh angka US$ 200 miliar. Jika ini tercapai, maka rekor baru ekspor nasional akan tercapai. Sampai Juli 2011 lalu, total ekspor mencapai US$ 116,04 miliar, naik 36,5% (ekspor manufaktur sendiri naik 28%) dibanding periode yang sama 2010. Pada waktu yang sama, total impor mencapai US 99,64 miliar, sehingga surplus neraca perdagangan hanya US$ 16,40 miliar. Khusus ekspor, memang terdapat potensi menembus US$ 200 miliar sampai akhir tahun, namun resesi ekonomi di Jepang, AS, dan Eropa membuat target itu bisa berantakan karena tiga bulan terakhir bisa jadi kinerja ekspor akan turun. Hal ini bisa terjadi, karena sampai Juli lalu Jepang dan AS masih menempati peringkat kedua dan ketiga negara tujuan ekspor terbesar Indonesia. Ekspor terbesar Indonesia masih ke China (11,70%), disusul Jepang (11,27%), AS (10%), Singapura (7,13%), dan Malaysia (6,06%).

Menariknya adalah, ketika ekspor tumbuh lumayan mengesankan, ternyata diikuti dengan pertumbuhan impor yang fantastis. Hal ini bisa terjadi karena sebagian (besar) industri nasional sangat tergantung dari bahan baku impor. Ketergantungan sektor industri terhadap bahan baku impor cukup tinggi, dari mulai 10 – 65%. Misalnya, industri peralatan telekomunikasi komponen impor sebesar 63,7%, peralatan rumah tangga dan kantor (56,7%), listrik (32,9%), peralatan lain-lain (31,2% ), kimia dasar (30,1%), metal (30,0%), kendaraan roda empat (28,3%), mesin dan peralatan berat (26,8%), produk metal (16,6%), alat angkut lainnya (14,9%), tekstil dan pakaian (14,5%), karet dan plastik (13,5%), pengolahan minyak dan batubara (13,4%), dan kertas dan produk kertas (10,9%) [Indef, 2008). Inilah paradoksnya: pada saat punya bahan baku justru diekspor, tapi di sisi lain malah mengembangkan industri yang berbahan baku impor.

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*