Pertumbuhan, Ketimpangan, dan Kerapuhan Ekonomi

BPS minggu lalu telah mengumumkan kinerja ekonomi nasional Triwulan I dengan angka-angka yang cukup mengejutkan. Pertumbuhan ekonomi Triwulan I secara mengejutkan mencapai 6,5%, padahal semula diperkirakan hanya akan berada pada level 6,3%. Dengan pertumbuhan sebesar itu, target pertumbuhan ekonomi 2011 sebesar 6,4% hampir pasti dapat dilampaui karena pada triwulan berikutnya biasanya pertumbuhan ekonomi trennya akan semakin meningkat.  Namun, sayangnya, seperti yang diprediksi pertumbuhan ekonomi lebih banyak ditopang oleh sektor non-tradeable. Sektor pengangkutan dan komunikasi mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni 13,8%. Sebaliknya sektor tradeable, misalnya pertanian  dan industri masing-masing hanya tumbuh 3,4% dan 4,6%. Kedua sektor itu kontribusinya juga menurun terhadap PDB jika dibandingkan Triwulan I 2010, masing-masing sebesar 15,6% (semula 16%) dan 24,1% (semula 25,5%).

Rincian Kinerja Ekonomi
Di luar kinerja pertumbuhan ekonomi dan kontribusi masing-masing sektor ekonomi, ada beberapa data lain yang menarik untuk disimak. Pertama, inflasi sampai April 2011 mencapai 0,39 (yoy). Jika inflasi tersebut dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu, maka lebih rendah (1,15% pada 2010). Selama Maret dan April 2011 secara berturut-turut mengalami deflasi, di mana pada April deflasi 0,39%. Kinerja inflasi ini bisa dikatakan bagus karena pada saat ini sebetulnya perekonomian dibayang-bayangi dengan dua msalah serius, yaitu kenaikan harga pangan dan minyak. Inflasi pangan secara umum sepanjang 2010  mencapai sekitar 17%, sehingga deflasi pangan yang terjadi pada saat ini harus disyukuri. Pangan masih menjadi penyumbang terpenting terjadinya deflasi pada Maret dan April 2011, meskipun belum signifikan penurunannya ketimbang inflasi yang terjadi pada bulan-bulan sebelumnya. Sementara itu, harga minyak sendiri masih bertengger pada level yang tinggi dan belum ada tanda-tanda turun dalam waktu dekat ini.
Kedua, kinerja ekspor juga menunjukkan pertumbuhan yang lumayan bagus di tengah persoalan penguatan nilai tukar dan intensitas perdagangan bebas (khususnya ACFTA). Ekspor periode Januari – Maret 2011 mencapai US$ 45,3 miliar, sedangkan periode yang sama 2010 nilai ekspor sebesar US$ 35,5 miliar. Sementara itu, di sisi lain kenaikan ekspor itu juga diimbangi dengan laju kenaikan impor yang pada peridode Januari – Maret 2011 mencapai US$ 38,7 miliar, naik dibandingkan periode yang sama 2010 (US$ 29,9 miliar). Dengan begitu, sepanjang Januari – Maret 2011  neraca perdagangan surplus US$ 6,6 miliar.  Semula banyak pihak yang cemas penguatan rupiah yang terlalu tinggi terhadap dolar AS akan memicu penurunan ekspor, sebab harga barang Indonesia menjadi relatif mahal di pasar internasional.  Tapi dengan melihat kinerja ekspor, dugaan tersebut tidak sepenuhnya terbukti. Sungguh pun begitu, harga yang harus dibayar adalah tingginya impor karena harga barang internasional relatif menjadi lebih murah.
Ketiga, BPS juga mengumumkan angka pengangguran terbuka pada Februari 2011 turun menjadi 6,8%. Angka pengangguran ini menurun dibandingkan Februari 2010 (7,41%) dan Agustus 2010 (7,14%). Sungguh pun begitu, jika dilihat secara lebih detail terdapat pemburukan pekerja di Indonesia. Para pekerja itu bisa dibagi dua, yakni pekerja penuh dan tak penuh. Pekerja tak penuh meningkat jumlahnya menjadi 34,19% (2011) dari semula 32,80% (2010). Lebih menukik lagi, pekerja tak penuh waktu bisa dirinci menjadi setengah menganggur dan pekerja paruh waktu, di mana yang setengah menganggur naik dari 15,3% (2010) menjadi 15,7% (2011) dan paruh waktu meningkat dari 17,5% (2010) menjadi 18,56% (2011). Seterusnya, proporsi pekerja sektor informal masih sangat tinggi, yakni 65,76% (pekerja formal hanya 34,24%). Seperti diketahui, pekerja sektor informal itu tingkat kesejahteraannya rendah dan tidak ada kepastian.
Keempat, isu lain yang sudah hampir basi tetapi begitu penting adalah ketimpangan pembangunan antara Jawa/Sumatera dan Luar Jawa. Dominasi Jawa/Sumatera hingga saat ini belum dapat dikurangi, bahkan terdapat tendensi agak meningkat beberapa tahun terakhir. Hal ini tentu saja sangat menggelisahkan karena implikasinya bukan saja persoalan ekonomi, tetapi juga sosial dan politik. Sampai Triwulan I 2011 Jawa dan Sumatera masing-masing menyumbang 57,9% dan 23,5%. Pada periode yang sama 2010, keduanya wilayah itu masing-masing berkontribusi 58,2% dan 23,0%. Jadi, kontribusi kedua wilayah itu bertambah 0,2% selama setahun ini, di mana total kontribusi kedua wilayah menjadi 81,4% (Triwulan I 2010 sebesar 81,2%). Jika pola ini terus bertahan, maka penduduk Papua dan Maluku, Sulawesi, Kalimantan, serta Bali dan Nusa Tenggara merasa dirinya sebagai cuma penonton pembangunan.

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*