Prospek Pemulihan Ekonomi Global

Skenario Pemulihan
Situasi yang diabstraksikan di muka memang baru bersifat perkiraan sehingga kemungkinan terjadinya perubahan masih dimungkinkan. Ada dua skenario besar yang bisa mengubah keadaan tersebut dalam tempo yang cepat. Pertama, negara-negara maju, khususnya di kawasan Eropa, segera menemukan solusi integratif yang melibatkan semua pihak sehingga kekuatan tersebut mampu menggempur krisis. Konsensus yang perlu dibangun antara lain kesepakatan suntikan dana (bailout) dan program disiplin fiskal yang terarah sehingga tidak menimbulkan kejutan di pasar. Pasokan dana ke negara yang bermasalah sangat penting saat ini sebab hal itu memberi ruang bagi negara bersangkutan untuk menata kembali perekonomiannya, termasuk kesanggupan membayar utang dan meningkatkan kredibilitas terhadap investor. Berikutnya, disiplin fiskal merupakan resep bagus yang tidak boleh diberikan dalam dosis yang terlalu tinggi.

Kedua, menggandeng sektor swasta, khususnya pelaku di sektor keuangan, untuk mendesain peta jalan (roadmap) pemulihan ekonomi sehingga keduanya  tidak saling menegasikan. Sampai hari ini salah satu faktor yang membuat sulit dilakukan pemulihan ekonomi karena sentimen negatif yang terus dihembuskan oleh pasar (keuangan). Tanpa dukungan pasar tidak mungkin kebijakan pemerintah bekerja di lapangan secara baik. Sayangnya, hingga saat ini juga belum dijumpai langkah konkret mempertemukan pemerintah dan dunia usaha, padahal jika itu terjadi potensi untuk mendorong pemulihan ekonomi sangat besar. Realitas ini terjadi disebabkan oleh faktor psikologis, di mana di antara keduanya saat ini tidak ada kepercayaan (distrust) sehingga sulit membangun komunikasi. Oleh karena itu, barangkali faktor psikologis ini yang perlu diselesaikan terlebih dulu dalam jangka pendek.

Mencermati kondisi itu, bagi negara berkembang seperti Indonesia yang paling aman adalah menyiapkan secara baik seluruh kemungkinan yang bakal terjadi, khususnya skenario terburuk. Di sini ada dua kebijakan utama yang perlu dibangun. Pertama, memanfaatkan anggaran negara (APBN) sebagai instrumen untuk menurunkan level risiko akibat krisis ekonomi. Stimulus fiskal merupakan opsi yang bagus untuk dipilih kembali namun dengan beragam catatan yang perlu dipenuhi agar jalan di lapangan. RAPBN 2012 masih belum diketuk palu, sehingga masih ada waktu memasukkan perbaikan. Isu utamanya bukanlah besaran dana, tapi orientasi dari program yang dibikin.  Di sini ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan (Stiglitz, 2010) agar bisa jalan: hasilnya cepat dirasakan, efektif, terkait dengan problem jangka panjang, dalam wujud investasi, adil, terkoneksi dengan aneka isu jangka pendek, dan fokus ke upaya penciptaan lapangan kerja.

Kedua, menyelesaikan persoalan klasik yang selama ini menjadi duri dalam menggerakkan ekonomi domestik. Masalah klasik itu tidak lain adalah buruknya iklim investasi akibat inefisiensi birokrasi, korupsi, perizinan, infrastruktur, kepastian hukum, dan kualitas tenaga kerja. Potensi penguatan ekonomi domestik jadi tersendat gara-gara perbaikan pada asapek-aspek tersebut sangat lambat, bahkan sebagian memburuk pada tahun-tahun belakangan. IFC baru meluncurkan laporan terbaru “Doing Business 2012” dan menempatkan Indonesia pada ranking 129, turun ketimbang tahun lalu (126). Demikian pula dengan laporan The Global Competitiveness Report 2011-2012 (yang dikeluarkan oleh WEF, 2011), posisi Indonesia turun ke urutan 46 ketimbang 2010 (44). Jika hal-hal ini diperhatikan dan pemerintah betul-betul fokus menyelesaikannya (apalagi ditambah dengan darah segar reshuffle), mestinya tidak sulit untuk meredam krisis kali ini.

*Ahmad Erani Yustika, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Brawijaya; Direktur Eksekutif Indef

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*