Puasa, Lebaran, dan Sedekah

Ilmu ekonomi konvensional (klasik/neoklasik) memperlakukan individu (manusia) dengan beberapa asumsi berikut. Pertama, individu adalah makhluk rasional, di mana rasionalitas bisa dilihat dari proses pengambilan keputusan yang didasarkan pada informasi yang sempurna. Kedua, motif indvidu dalam kegiatan (transaksi) ekonomi adalah mencari laba (profit-seeking behavior). Di sini diandaikan individu tidak melakukan transaksi bila kegiatan itu akan merugikan. Ketiga, aktivitas ekonomi terpisah dari struktur masyarakat, budaya, keyakinan, dan lain sebagainya. Implikasinya, satu kegiatan ekonomi dapat ditransfer dalam kegiatan ekonomi lainnya karena perilaku individu adalah bebas nilai (value-free). Dengan asumsi-asumsi itulah selama ini persoalan ekonomi di masyarakat diidentifikasi dan dicarikan desain pemecahannya. Masalahnya, dalam dunia nyata, ternyata perilaku manusia tidak dapat disederhanakan dalam bentuk asumsi-asumsi tersebut.

Rasionalitas, Laba, dan Asosial
Pengertian lebih detail dari rasionalitas dalam ilmu ekonomi adalah setiap individu akan mengambil keputusan bila telah melalui empat tingkatan berikut: (i) adanya preferensi (preference), artinya individu sudah memiliki keinginan untuk membeli/menjual sesuatu dalam pasar transaksi; (ii) keyakinan (belief), maksudnya preferensi tersebut diambil setelah individu memeroleh informasi tentang alternatif-alternatif barang/jasa yang ingin ditransaksikan; (iii) sumber daya (resources), di mana keyakinan tersebut harus disandingkan dengan kesempatan (opportunities) dan keterbatasan (constraints); dan (iv) tindakan (action), yang merupakan akumulasi dari serangkaian proses di atas. Deskripsi tersebut dengan jelas menerangkan bahwa tindakan ekonomi baru terjadi apabila seseorang telah melewati tahapan-tahapan itu, yang secara umum dibimbing oleh ‘rasionalitas’. Tidak sedikitpun tersedia ruang di luar hal itu yang bisa mengganggu kegiatan transaksi.

Berikutnya, indvidu adalah makhluk ekonomi yang seluruh orientasi kegiatan transaksinya adalah laba. Sekadar ilustrasi, jika dalam suatu pasar terdapat 10 pedagang beras dengan banyak konsumen, maka setiap konsumen akan memilih pedagang yang menjual beras paling murah. Pedagang yang masih mampu bersaing akan terus berada di pasar tersebut. Namun, pedagang yang tidak efisien (entah karena alasan apapun), akhirnya keluar dari pasar karena dalam jangka waktu tertentu ia akan rugi. Jadi, pedagang akan masuk atau keluar pasar semata-mata oleh pertimbangan keuntungan. Diktum ini dipercaya terjadi dalam semua aktivitas ekonomi sehingga rumus ini berlaku universal. Dengan kata lain, motif cinta, empati, kedermawanan, solidaritas, kasih sayang, emosi, persahabatan, dan kesetiakawanan tidak hadir dalam setiap kegiatan ekonomi. Pendeknya, individu kalis dari seluruh unsur tersebut sehingga manusia berpotensi menjadi serigala bagi sesamanya (homo homini lupus).

Sementara itu, akibat manusia ditempatkan sebagai makhluk rasional yang berorientasi kepada motif ekonomi (keuntungan), maka seluruh atribut sosial yang berada di sekitar individu menjadi tidak bermakna. Di sini, atribut semacam etnisitas, stratifikasi sosial, agama, budaya, keyakinan, dan lain-lain hanyalah hiasan pewarna hidup yang tidak bakal terpantul dalam kegiatan ekonomi. Contohnya, individu dianggap akan memanfaatkan pendapatan yang diterima untuk memuaskan kebutuhannya. Kepuasan tersebut diukur dari pemenuhan kebutuhan lahiriah, seperti makanan, pakaian, mobil, rumah, dan lain-lain. Pada titik ini, dianggap semua makhluk akan memiliki perilaku seperti itu, apapun agama, budaya, maupun keyakinannya. Perilaku di luar itu hanyalah anomali, yang bukan merupakan pola ajeg sehingga eksistensinya dipandang tidak penting. Jadi, dalam urusan ekonomi individu adalah makhluk asosial.

Ekonomi Sedekah
Sebaliknya, ekonomi kelembagaan menyatakan bahwa seluruh perilaku manusia (termasuk kegiatan ekonomi) tidak mungkin lepas dari pengaruh nilai budaya, agama, tradisi, dan aspek lain yang niscaya dalam setiap individu. Pendekatan ekonomi kelembagaan meyakini bahwa rasionalitas individu dibingkai oleh tradisi yang telah mengendap dalam hati dan ingatan setiap manusia. Oleh karena itu, setiap individu tidak dapat digeneralisasikan sikapnya, termasuk dalam urusan ekonomi. Motif individu bukan sekadar mengeruk keuntungan, tetapi juga sikap altruis yang mencoba melihat sesama sebagai pihak yang perlu disantuni kepentingannya. Kedermawanan (charity) bukanlah sekadar membagi rizki ekonomi kepada pihak lain, melainkan sikap batin yang menganggap bahwa hidup bukan semata soal pemenuhan motif ekonomi. Di sini, tidak mungkin perilaku itu muncul atas nama rasionalitas, melainkan bersumber dari keyakinan dan budaya yang melingkupinya.

Di sinilah peristiwa ramadhan menjadi salah satu sampel yang baik untuk menggambarkan keanekaragaman sikap manusia berhadapan dengan kepentingan ekonomi. Dalam perspektif ekonomi, ramadhan adalah negasi dari seluruh postulat ekonomi konvensional yang telah diterangkan di muka. Manusia diminta untuk mengerem nafsu/birahi hal-hal yang duniawiah (baca: kepentingan ekonomi) karena sesungguhnya seluruh kepemilikan di dunia ini bersifat fana. Inilah yang menyebabkan manusia pada bulan ini lebih banyak mengeluarkan charity ketimbang bulan-bulan lainnya. Praktis, selama sebulan ini yang bergulir adalah ‘ekonomi sedekah’, yang pasti tidak akan memberikan ‘keuntungan materi’. Sifat kedermawanan ini sebetulnya cuma memberi pesan tunggal: bahwa manusia bukanlah binatang ekonomi. Jadi, ramadhan bisa menjadi teladan bahwa sedekah merupakan bagian penting dalam aktivitas ekonomi, selain motif profit.

Republika, 15 September 2008

*Ahmad Erani Yustika, Ketua Program Studi Magister
Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan FE Unibraw

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*