RAPBN 2012: Problem Internal dan Eksternal

Mitigasi Ancaman Eksternal
Berikutnya, asumsi makroekonomi yang telah disepakati juga menunjukkan keraguan yang besar dari pemerintah, di mana hal ini terlihat dari rentang asumsi yang terlalu besar pada masing-masing target. Di samping pertumbuhan ekonomi, asumsi makroekonomi lainnya memiliki rentang yang besar, misalnya inflasi 3,5-5,5%; SBI 3 bulan 5,5-7,5%; dan harga minyak mentah US$ 75-95 per barrel. Pemerintah mungkin saja melakukan itu demi menghindari “kesalahan”. Tapi,  dengan rentang target yang lebar tersebut menunjukkan kekurangpahaman pemerintah terhadap kondisi ekonomi, di samping menyulitkan membuat kalkulasi yang lebih pasti untuk masing-masing alokasi penerimaan maupun pengeluaran. Misalnya, skema pengeluaran subsidi minyak pasti sulit dilakukan secara pasti jika rentang asumsi yang digunakan dengan memakai rentang patokan yang lebar.

Asumsi inflasi pada RAPBN 2012 jelas  tidak realistis dengan menggunakan batas bawah 3,5%. Dua faktor penekan penting bakal menghadang hal itu pada tahun depan: rencana kenaikan harga minyak dan laju pertumbuhan ekonomi. Diperkirakan tahun depan pemerintah bakal merealisasikan kenaikan harga minyak/listrik yang ini bakal memicu inflasi (ini belum inflasi yang bersumber dari pangan). Seterusnya, prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi pasti membuat mesin ekonomi akan cepat panas, lebih-lebih jika tidak segera diimbangi dengan peningkatan kapasitas produksi. Jadi, asumsi inflasi yang realistis adalah 5-6% pada 2012. Jika ini yang terjadi, maka SBI 3 bulan juga perlu direformulasi karena asumsi 5,5-7,5% menjadi tidak realistis dengan patokan inflasi yang baru. Jika asumsi inflasi mengunakan patokan 5-6%, maka asumsi SBI 3 bulan yang wajar berada di kisaran 6,5-7,5%.

Terakhir, RAPBN 2012 menghadapi 2 ancaman eksternal yang penting. Pertama, harga minyak internasional menghadapi situasi yang tidak menentu, sehingga lebih realistis mematok asumsi sekitar US$ 90-100/barrel. Di luar itu, pemerintah perlu mematok subsidi minyak maksimal sehingga ketika ambang batas subsidi telah terlampaui kebijakan yang diterapkan menjadi pasti dan tidak menimbulkan polemik yang meletihkan. Kedua, krisis ekonomi Yunani dan beberapa negara lain peru diantisipasi. Nilai tukar dan kinerja ekspor-impor bakal terganggu jika krisis itu meluas sehingga perlu mitigasi yang efektif jika itu terjadi, karena efeknya akan merembet ke soal lain, misalnya pembayaran bunga/cicilan pokok utang dan penurunan ekspor. Oleh karena itu, revisi asumsi masih perlu dilakukan dan mitigasi ancaman eksternal perlu diperhatikan agar RAPBN 2012 lebih kredibel dan menujukkan wawasan pemerintah yang utuh terhadap ekonomi domestik maupun global.

*Ahmad Erani Yustika, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Brawijaya; Direktur Eksekutif Indef

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*