Konfigurasi dan Spektrum Kemiskinan

Rasanya semua sepakat dengan pernyataan ini, bahwa “kemiskinan bukanlah tragedi kemanusiaan akibat takdir ataupun ketidakramahan alam.” Memang betul, akibat kekeringan, banjir, longsor, atau topan menyebabkan timbulnya jumlah kaum papa baru, tapi segera hal itu akan menguap jika diberikan uang atau dibangun infrastruktur baru. Hal in tentu berbeda apabila dikaitkan dengan komunitas kemiskinan yang sesungguhnya; di mana kerumunan multituna ini tidak akan serta merta hilang jika bantuan material diberikan, atau bahkan jika bimbingan dan penyuluhan dijadikan program untuk menambal kekurangan ketrampilan.

Krisis, Reformasi, dan Hikmah Ekonomi

Tepat 10 tahun yang lalu, persisnya Juli 1997, perekonomian di wilayah Asia (Timur) rontok dihantam kirisis ekonomi yang berat. Krisis ekonomi yang dipicu oleh terkulainya mata uang bath (Thailand) dan menjalar ke Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Korsel (lima negara yang paling parah terjangkit krisis ekonomi) nyaris melenyapkan seluruh pencapaian gemilang yang diperoleh negara-negara tersebut selama dua dekade sebelumnya. Krisis ekonomi itulah yang lantas menjadi alas bagi negara-negara Asia Timur (AT) menjalankan babakan reformasi ekonomi untuk menata kembali perekonomian mereka.

Konsensus Baru Pembangunan

Sebongkah ide memang tidak pernah bisa dibelenggu. Tapi, agar dapat merayap, sebuah gagasan jelas butuh kaki. Masalahnya, justru di titik inilah hal genting itu terjadi, di mana antara gagasan dan ruang yang tersedia tidak selalu berjalan paralel di Indonesia. Pada masa Orde Baru, benih-benih ide rasanya tidak pernah berhenti menyembul dari ladang pemikiran para intelektual. Bahkan, bila ditelisik jauh ke belakang, perdebatan-perdebatan akademik sudah tumbuh subur, bahkan sebelum kemerdekaan diproklamasikan. Namun, ruang untuk menyemaikan benih-benih gagasan kerap kali ditepis dengan beragam alasan, tentu yang terpenting adalah stabilitas politik. Pada zaman Orde Baru, suara-suara kritis dibungkam demi alasan stabilitas, padahal sebetulnya hanyalah dalih untuk melanggengkan kekuasaan.