Desain Ekonomi Desa dan Kota

Analisis demografi saat ini hanya mendapakan porsi yang kecil dari pembuat kebijakan maupun analis ekonomi (sosial). Akibatnya, strategi pembangunan (ekonomi) yang didesain abai terhadap realitas demografi. Inilah yang menjadi salah satu dasar sulitnya merampungkan soal-soal ekonomi yang hampir menjadi klise, seperti pengangguran dan kemiskinan. Boleh saja masalah pengangguran dan kemiskinan itu dianggap sebagai buah dari instabilitas ekonomi internasional maupun volatilitas ketahanan ekonomi domestik, namun argumentasi ini belum menunjuk analisis yang lebih mendasar.

Birokrasi dan Pemburu Rente

Hiruk pikuk penyaluran dana non-bujeter DKP (Departemen Kelautan dan Perikanan), yang sejauh ini sudah melibatkan nama-nama ”besar” dalam kancah politik nasional, sebetulnya tidak perlu menghasilkan kegemparan apabila kita tahu konfigurasi birokrasi pemerintah. Di luar itu, magma lain yang lebih dahsyat membuat kegaduhan adalah investasi yang ditanamkan oleh para ”cukong” kepada capres/cawapres yang hendak bertarung. Cukong itu tidak lain adalah para pemodal yang menggantungkan sebagian besar kelancaran bisnisnya dari proyek pemerintah. Di daerah, para cukong itu beroperasi menjadi kasir dalam setiap pelaksanaan pilkada (pemilihan gubernur/ walikota/bupati).

Cina, India, dan Daya Saing

Berita tidak mengenakkan kembali menerjang Indonesia. Laporan tahunan yang dipublikasikan oleh Institute for Management Development (IMD) dalam tajuk ‘World Competitiveness Yearbook’)  menempatkan Indonesia pada urutan 54 dari 55 negara yang disurvei tingkat daya saingnya (Sindo, 11/5/2007). Survei yang menggunakan 323 kriteria berdasarkan 4 kelompok indikator tersebut (kinerja ekonomi, efisiensi birokrasi, efisiensi bisnis, dan ketersediaan infrastruktur) memberikan skor 37,4 kepada Indonesia, di mana skor itu hanya lebih baik dari Venezuela. Sebaliknya, wakil Asia lain, seperti Cina dan India, melakukan lompatan yang cukup besar ketimbang tahun sebelumnya. Secara umum, negara-negara di Asia melakukan percepatan daya saing yang cukup tinggi sehingga memeroleh skor yang bagus. Celakanya, Indonesia justru melangkah mundur. Merujuk Cina dan India, apakah yang bisa dipelajari Indonesia untuk mengejar ketertinggalan tersebut?  

10 Tahun Pascakrisis Ekonomi

Bulan Juli sekarang nyaris ’dirayakan’ sebagai peringatan satu dekade pascakrisis ekonomi di Asia (Timur). Tentu saja, perayaan ini bukan dimaknai untuk mengenang kegembiraan atas peristiwa yang pernah berlangsung, melainkan diartikan sebagai cara untuk mencegah agar peristiwa menyedihkan itu tidak terulang lagi. Para ekonom, pelaku bisnis, pemerintah, dan sebagian masyarakat pasti ingat, pada Juli 1997 kehidupan ekonomi tiba-tiba menjadi gelap padahal sebelum itu semuanya seperti berjalan di jalur yang benar. Di Thailand, Malaysia, Filipina, Korsel, dan Indonesia (sekadar menyebut sebagian negara di Asia) perekonomian tumbuh dengan pesat dan jumlah penduduk miskin berkurang drastis. Pendeknya, pembangunan ekonomi yang telah dijalankan sekitar 30 tahun sudah berada di jalur yang benar. Pertanyaannya, bagaimana krisis ekonomi saat itu terjadi dan antisipasi kebijakan seperti apa yang mesti dipersiapkan agar kejadian itu tidak terulang?

Page 11 of 11