Peta Persaingan
Utang AS saat ini sekitar US$ 15,7 triliun atau hampir 100% dari PDB. Ini yang menjadi salah satu sebab ekonomi mereka saat ini guncang karena APBN didesain defisit sangat besar sehingga kepercayaan investor goyah. Ini pula yang menjadi sumber pemantik diturunkannya rating utang mereka ke AA oleh S&P. Sementara itu, dipihak lain, China merupakan pemegang terbesar surat utang pemerintah AS, yaitu sebesar US$ 1,16 triliun. Setelah China, surat utang AS dibeli oleh  Jepang (906), Inggris (333), dan Brazil (189) [dalam US$ miliar]. Dari sisi ini, AS sangat tergantung dari China. Jika tiba-tiba China menjual surat utang tersebut, maka dipastikan ekonomi AS makin guncang. Dengan begitu, permainan ekonomi dari sisi ini akan lebih dominan dipengaruhi sikap China sehingga ruang gerak AS relatif terbatas. Kemampuan AS lebih banyak dipasok oleh diplomasi luar negeri dan penetrasi politik, di mana bidang ini menjadi keahlian mereka.
Prospek perdagangan China dan AS juga tidak menguntungkan AS. Defisit perdagangan AS terhadap China makin besar dari tahun ke tahun. Pada 2009, defisit perdagangan AS ke China “hanya†US$ 226,9 miliar. Tapi, pada 2010 defisit perdagangan itu melonjak menjadi US$ 273 miliar (ekspor AS cuma US$ 91,9 miliar, namun impornya US$ 364,9 miliar). Kekalahan perdagangan AS ini sedemikian telak sehingga AS pernah menekan China untuk melakukan apresiasi mata uangnya agar daya saing komoditas menjadi lebih seimbang. Namun, seperti diketahui, China bukanlah negara yang gampang didikte sehingga tekanan AS itu tidak dihiraukan. Oleh karena itu, dari sudut ekonomi hampir tidak ada celah bagi AS untuk memenangkan persaingan melawan China, karena semua jalur sudah dikunci oleh China. Sehingga, tidak heran apabila AS menempuh kebijakan yang tidak lazim di pasar domestik, seperti “Buy Americanâ€.
Konfigurasi persaingan itulah yang akan mewarnai persaingan pada tahun-tahun mendatang. AS memang sekarang dalam posisi inferior berhadapan dengan China, namun beberapa poin kunci masih bisa mereka mainkan, misalnya posisi korporasi swasta AS yang banyak melakukan investasi ke China. Pertumbuhan ekonomi China, pada titik ini, banyak disumbang oleh investasi asing, di mana AS salah satu pemasok besar. AS juga mengincar kilang minyak dan energi lainnya dalam jangka panjang, sehingga “proyek†Irak dan Libya sulit dilepaskan dari kerangka pikir ini. Dengan energi di tangan, maka kegiatan ekonomi bisa digerakkan dengan tempo tinggi dalam jangka panjang. China sendiri terus mengembangkan pembangkit nuklir dalam 5 tahun ke depan untuk mencukupi kebutuhan energi, sehingga geliat ekonomi tetap bisa dijaga. Indonesia mestinya tidak menjadi penonton dalam pertarungan tersebut, tapi masuk ke medan perang  dengan orisinalitas gagasan dan kecakapan memenangkan pertempuran.
*Ahmad Erani Yustika, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Brawijaya; Direktur Eksekutif Indef
